Sabtu, 26 Desember 2009

Perdebatan tentang Transendensi dan Imanensi Allah dalam Monotheisme Islam-Kristen

(Studi tentang Kritik Abu Isa al Warraq dan Abd al Jabbar atas Doktrin Trinitas)

1.       Pengantar
Salah satu tema perdebatan antara umat Islam dan Kristen dalam penghayatan iman dan hidup keberagamaannya adalah tentang monotheisme tawhid dan monotheisme trinitas. Bagi umat muslim, doktrin trinitas ditolak dengan tegas karena melanggar prinsip keesaan Allah. Pertentangan tentang monotheisme tawhid dan monotheisme trinitas ini menjadi tema perdebatan yang telah berlangsung berabad-abad. Bahkan perdebatan teologis mengenai hal ini telah muncul sejak abad awal Islam dan abad awal bagi Kristianitas dalam menetapkan doktrin Trinitas. Dari kalangan Islam kala itu, tokoh-tokoh mutakallim (teolog Islam) dari kaum Mutazila mulai mengkritik dan mempertanyakan tentang doktrin Trinitas sebagai bagian dari pergulatannya atas ‘kalam’. Sementara itu, dari pihak Kristiani, para Bapa Gereja (teolog dan apologet) pun memunculkan refleksi teologis yang terus berlanjut dalam rangka memahami Allah dalam Trinitas.
Dalam tulisan ini, akan dipaparkan tentang kritik dua tokoh mutakallim Mutazila tentang Trinitas dan ajaran serta sejarah Kristianitas yang hidup sekitar abad ke-9/10. Dua tokoh itu adalah Abu Isa al Warraq dan Abd al Jabbar. Kritiknya terhadap Kristianitas dengan segala perjalanan sejarah serta doktrin-doktrinnya tentang Allah telah memperkaya khasanah teologis bagi Islam maupun Kristen. Melalui kritik dan perdebatan tentang Islam-Kristen ini, setidaknya setiap umat beriman ditantang untuk berani mempertanggungjawabkan imannya demi suatu dialog teologis yang konstruktif. Perdebatan dan penelusuran akan Allah ini pertama-tama bukan untuk memasung Allah dalam pemikiran manusia, tetapi dalam rangka membuka kejernihan akal budi akan pewahyuan Allah yang hadir dalam kebebasan dan perjuangan manusia itu sendiri dalam menangkap Dia.


2.       Biografi Intelektual dari Abu Isa al Warraq dan Ibn Abd al-Jabbar
2.1. Abu Isa al Warraq (Against the Trinity)
Nama lengkap al-Warraq adalah Abu Isa Muhammad b. Harun b. Muhammad al Warraq. Al Warraq hidup pada pertengahan abad ke-9. Dia adalah seorang pemikir Islam yang menyukai tentang polemik tentang agama, hingga akhirnya dinyatakan heretik oleh Islam dan tulisan-tulisannya tidak pernah dikenal dalam versi orisinilnya.[1] Salah satu karya monumentalnya berjudul Against The Trinity (Radd ala-Thalath Firaq min al-Nasara) yang muncul pada akhir abad ke-9 dan diperkenalkan oleh seorang apologet Kristen yang bernama Yahya Ibn Adi. Abu Isa al Warraq dikenal sebagai seorang yang berpikir kritis. Ia menggabungkan antara kekaguman dan kecurigaan, beberapa kekaguman dan kecurigaan ini mengalir langsung dari karya-karyanya. Namun banyak pula yang menganggap bahwa al-Warraq memiliki pemikiran yang berbahaya, hingga akhirnya dia dinyatakan sebagai pemikir heretik.[2]
Salah satu informasi awal yang mencatat nama al-Warraq adalah Kitab al-Intisar yang ditulis oleh al-Khayyat sebagai bentuk tanggapan dari tulisan dari al-Rawandi: Kitab Fadihat al-Mutazila. Al-Khayyat menyebutkan adanya hubungan antara lawannya itu dengan al-Warraq yang disebut sebagai: guru, saudara, dan pendahulu dari Ibn al-Rawandi. Al-Warraq merupakan seorang pemikir Islam dari aliran Mutazila. Mutazila (arabnya: المعتزلة al-mu`tazilah)  adalah sebuah mahzab teologi spekulatif Islam yang membentang di antara kota Basra hingga Baghdad selama abad 8-10. Mahzab ini dikembangkan oleh sebagian kecil intelektual Muslim minoritas. Mereka tidak dapat diterima oleh kaum Sunni karena kaum Mutazila percaya bahwa akal budi manusia lebih dapat diterima dibandingkan dengan tradisi.   Oleh karena kepercayaan ini, kaum Mutazila menginterpretasikan teks-teks Quran lebih maju daripada makna literer yang biasa dilakukan oleh  orang-orang Muslim pada umumnya, termasuk sering digunakan oleh para intelektual Sunni.[3]
Kaum Mutazila memiliki 5 prinsip dasar dalam teologi spekulatifnya. Kelima prinsip tersebut antara lain: (1) Al-Tawhid (التوحيد )– Keesaan Allah.  Kaum Mutazila percaya pada kesatuan absolut dan keesaan Allah.  Dalam kepercayaan terhadap doktrin ini, Kaum Mutazila tidak berbeda dengan mayoritas umat Muslim. Meski demikian, perbedaan yang ada di dalam kaum Mutazila dengan orang Muslim pada umumnya terletak dalam usaha kaum Mutazila untuk selalu menjelaskan/mempertanggungjawabkan kepercayaannya terhadap keesaan Allah ini secara rasional.Mereka berjuang bagaimana keesaan Allah ini sungguh konsisten dengan apa yang telah diungkapkan oleh Kitab Suci dan akal budi. Dan selalu saja, usaha yang dilakukan oleh kaum Mutazila dalam membicarakan tentang Tuhan ini berhadapan dengan keterbatasan bahasa dan kemampuan rasional manusia untuk menjelaskan Yang Ilahi. (2) Al-'Adl (العدل)– Keadilan Allah.  Berhadapan dengan permasalahan tentang eksistensi kejahatan di dunia, Kaum Mutazila menunjuk pada kehendak bebas manusia, maka kejahatan dimaknai sebagai sesuatu yang muncul dari tindakan manusia yang keliru.  Allah tidak jahat dan Ia tidak menginginkan seorang pun melakukan yang jahat pula. Apabila kejahatan manusia itu berasal dari Allah maka hukuman akan tidak memiliki arti sama sekali, sebab manusia sekedar melaksanakan apa yang menjadi kehendak Allah. Kaum Mutazila tidak menyangkal eksistensi dari penderitaan yang muncul dari kesalahan manusia dan ketidaktepatan manusia dalam menggunakan kehendak bebasnya yang dianugerahkan oleh Allah. (3) Al-Wa'd wa al-Wa'id ( الوعد و الوعيد) – Janji dan Ancaman.  Hal ini berkaitan dengan pertanyaan tentang Hari Akhir dan Qiyamah (Hari Pengadilan dalam Islam). Berdasarkan pemikiran Abd al-Jabbar, doktrin tentang janji dan ancaman Allah yang tidak dapat ditarik kembali ini merupakan suatu pengetahuan bahwa Allah itu berjanji akan memberikan kehidupan bagi mereka yang taat kepada-Nya, sementara itu akan memberikan hukuman bagi mereka yang tidak taat kepada-Nya. (4) Al-Manzilah bayna al-Manzilatayn (المنزلة بين المنزلتين) – Posisi Intermediasi.  Hal ini berarti bahwa seorang muslim yang berdosa besar dan meninggal tanpa bertobat tidak dapat disebut sebagai umat, atau juga kafir, melainkan berada diantara dua hal tersebut (intermediasi). Alasan dibalik doktrin ini adalah pemahaman bahwa seorang  mu'min (umat beriman) adalah seseorang yang memiliki iman dan keyakinan di dalam dan tentang Allah dan hidupnya merefleksikan iman, kehendak, serta pilihan moralnya. (5) Al-amr bil ma'ruf wa al-nahy 'an al munkar (الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر) – Melindungi kebaikan dan mencegah kejahatan. Abd al-Jabbar berkata): perintah kebaikan itu terdiri dari dua tipe. Salah satunya adalah kewajiban dan lainnya merupakan bagian dari perutusan manusia untuk beribadah. Mencegah kejahatan merupakan sebuah tindakan kewajiban karena semua kejahatan secara etik adalah kesalahan.[4]
Selain itu, informasi lain mengenai Abu Isa al-Warraq dapat ditemukan di dalam karya-karya seperti: Maqalat al-Islamiyin yang ditulis oleh al-Ashari pada akhir abad ke-9, Kitab Muruj al-Dhahab yang ditulis oleh sejarawan al Mas’udi pada awal abad ke-10. Dalam kitab itu disebutkan bahwa Abu Isa termasuk para pemikir dan penulis dari kaum Shiah. Dia juga melaporkan dari karya Abu Isa al Warraq, Kitab al-Majalis yang mencatat tentang perdebatan antara Amr Ibn Ubayd dan Hisham Ibn al-Hakam menyangkut tentang signifikansi peran imam. Dalam laporan itu, tertulis juga beberapa informasi penting bahwa Abu Isa al-Warraq adalah orang asli Baghdad dan meninggal di Ramla pada tahun 861. Abu Isa al-Warraq menulis banyak buku. Dalam bukunya yang berjudul Kitab al-Maqalat, al-Warraq membicarakan tentang imamat dan beberapa topik kontroversial. Oleh Mas’udi dalam bukunya  Kitab al-Tanbih wa al-Ishraf, Abu Isa al Warraq disebut sebagai seorang polemicist (penulis polemik) yang energetik.[5]
Oleh beberapa penulis yang melaporkan tentang karya-karya dan hidup Abu Isa al-Warraq, al-Warraq juga digabungkan ke dalam golongan para pemikir yang menganut pandangan Manikeisme. Hal ini terungkap dalam pemikiran-pemikirannya yang terkesan dualis dan tidak sekonvensional pemikiran Mutazila. Meski demikian, al-Warraq juga mengetahui banyak hal tentang agama-agama non-Muslim. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kepribadian dan pengabdian intelektual Abu Isa al-Warraq bagi kritik teologi agama-agama sungguh amat kompleks. Di satu sisi, ia secara tegas adalah pemikir Shiah yang mempertahankan tentang pandangan Islam mengenai Allah dan menolak pandangan tentang Allah dari agama-agama lain, namun di sisi lain, al-Warraq juga tertarik dengan pokok-pokok pemikiran dari agama lain dan hal ini menyediakan kesempatan bagi orang-orang yang berseberangan dengan dia menunduhnya sebagai seorang dualis.[6] Untuk melihat karakter khas dari biografi intelektual Abu Isa al-Warraq, kita bisa menelusuri dari karya-karya pemikiran yang telah ditulisnya: (1) Al-Gharib al-Mashriqi: tentang kritik terhadap nabi dan ajaran Islam (2) Al-Hadath; (3) Kitab al-Hukm ala Surati lam yakun; (4) Kitab Ikhtilaf al-Shi’a; (5) Al-Imama (tentang imam: ada versi panjang dan pendek);         (6) Kitab Iqtisas Madhahib Ashab al Ithnayn wa al-Radd ‘alayhim; (7) Kitab al- Maqalat; (8) Kitab al-Majalis; (9) Mas’ala fi Qidam al-Ajsam ma Ithbatihi al A-rad; (10) Naqd al-Uthmaniya; (11) Radd ala al-Majus; (12) Radd ala al-Nasara; (13) Radd ala al-Yahud; (14) Kitab al-Saqifa; (15) Menurut Abd al-Jabbar dalam bukunya  Tathbit, al-Warraq juga menulis Kitab al-Zumurruda yang memuat perdebatan sekitar persoalan tentang nabi; (16) Sebuah tulisan lagi yang memuat tentang penolakannya terhadap doktrin Kristen yang secara khusus ditujukan pada kelompok kecil Jakobit dan beberapa sekte lainnya.[7]
Salah satu karya besar Abu Isa al-Warraq adalah Kitab al-Radd ala thalath firaq min al-Nasara yang tulisnya hingga dua jilid. Jilid pertama membahas tentang kritik/penolakannya terhadap doktrin  tentang Trinitas Kristen yang ditujukan bagi tiga komunitas Kristen: Nestorian, Monofisitis atau Jakobit,  dan Orang-orang Kalsedon atau Melkit. Sementara jilid kedua membicarakan tentang Persatuan antara sifat ilahi dan manusiawi di dalam diri Mesias. Tujuan al-Warraq dalam menulis al-Radd ini adalah untuk menunjukkan bahwa Kristianitas dan ajaran-ajarannya memiliki banyak inkonsistensi.[8]
Dalam bukunya Kitab al Radd ala thalath firaq min al-Nasara jilid pertama, al-Warraq mengkritik sekaligus menolak doktrin/pemahaman ketiga komunitas Kristen (Jakobit, Nestorian, dan Melkit) tentang Monoteisme Trinitarian Kristen. Disebutkan oleh al-Warraq di awal bukunya, bahwa Jakobit dan Nestorian mengklaim bahwa Allah Kekal yang Esa adalah satu substansi dengan tiga hypostasis, dan bahwa tiga hypostasis itu adalah satu substansi dan satu substasi adalah tiga hypostasis. Sementara menurut al-Warraq, Kelompok Melkit yang mengikuti iman dari Raja Bizantin mengklaim bahwa Allah Kekal Yang Esa adalah satu substansi yang memiliki tiga hypostasis, dan bahwa hypostasis adalah substansi namun substansi adalah sesuatu yang berbeda dengan hypostasis, meski mereka tidak mengakui secara numerik bahwa konsep itu akan menghadirkan jumlah empat bagi mereka.[9]

2.2. Ibn Abd al Jabbar (Critique of Christian Origins)
Abd al Jabbar termasuk salah satu teolog Islam mazhab Mutazila yang muncul di banyak karya para sejarawan seperti: al Khatib al Baghdadi (1071), Sam’ani (1166), Dhahabi (1348),  Safadi (1363), Ibn Hajar al Asqani (1449), dan Suyuti (1505). Orang pertama yang menulis tentang al-Jabbar justru bukanlah seorang sejarawan namun seorang sastrawan: Abu Hayyan al-Tawhidi (1023). Dengan banyaknya sejarawan mencatat nama Abd al-Jabbar menunjukkan bahwa permikiran dari Abd al Jabbar cukup dikenal pada era tersebut.[10]
Nama lengkap Abd al Jabbar adalah Abu l-Hassan Abd al-Jabbar b.Ahmad b. Abd al Jabbar b. Ahmad b. Al-Khalil b. Abdallah al Qadi al Hamadhani al –Asadabadi. Dua nama terakhir ini terkait erat dengan tempat lahir Abd al Jabbar: Asadabad, sebuah kota kecil  di sebelah barat Iran, di jalur ke arah Baghdad, sebelah barat daya Hamadhan.[11]
Perjalanan pemikiran teologisnya dimulai di Qaswin dan kemudian ke Hamadhan untuk belajar dari Abu Muhammad Abd al Rahman al- Jallab. Setelah al Jallab meninggal, al Jabbar berpindah ke Isfahan dimana ia belajar hadith dari Abdallah b. Jafar al Isbahani dan Ahmad b. Ibrahim al Tamimi. Kemudia ia tiba di Basra dan mulai memfokuskan studinya pada kalam. Ketertarikan al Jabbar pada studi tentang kalam ini diungkapkannya demikian: “ Barangsiapa mempelajari fiqh, ia mencari segala sesuatu di dunia ini, namun kalam tidak memiliki tujuan lain selain Allah sendiri”. Mulai saat itulah ia berpindah dari Basra ke Baghdad di mana ia belajar dari seorang pemimpin sekolah Mutazila Basra, Abu Abdallah al Basri, murid dari Abu Ali b. Khallad dan Abu Hashim al-Jubbai.[12]
Karir Abd al Jabbar mencapai puncaknya ketika berada di Baghdad dan mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya. Lantas gurunya, Abu Abdallah mengajukan al Jabbar untuk bekerja di bawah Vizier Ibn Abbad (salah seorang murid lain dari Abu Abdallah). Ibn Abbad mengangkat al Jabbar sebagai hakim pemimpin (Qadi al Qudat) di Rayy, ibukota provinsi Jibal, Iran. Dan mulai saat itulah ia memiliki banyak murid dan dikenal sebagai mutakallim Mutazila terbesar setelah Abu Abdallah al Basri meninggal.[13]
Pemikiran Abd al Jabbar dipengaruhi oleh tradisi polemik kaum Mutazila di dalam Islam. Kalam tidak hanya dimaknai sebagai suatu teologi (sebuah usaha untuk mendapatkan pandangan yang sintetis atas Allah dan kosmos) namun juga merupakan suatu polemik religius. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa Mutazila lahir dari cerita tentang perselisihan antara al Hasan al Basri dan muridnya yang bernama Wasin b. Ata tentang posisi seorang muslim yang berdosa besar.[14] Dengan pertentangan yang terjadi antara  al Hasan al Basri dan Wasin b. Ata tentang posisi seorang muslim yang berdosa besar ini, muncul aliran para teolog Islam yang menekankan tentang ‘kalam’.[15] Kalam dipahami sebagai suatu refleksi religius dialektis yang saling mempertentangkan.[16] Abd al Jabbar hidup dan mengalami pergulatan intelektual religius serta hidup beriman dalam konteks berkembangnya mazhab Mutazila dalam kehidupan muslim di Baghdad kala itu.
Salah satu karya besar Abd al Jabbar adalah The Critique of Christian Origin (Tathbit dala’il al-nubuwwa). Di dalam karya itu, Abd al Jabbar mengungkapkan tentang orang Kristen yang telah mengubah agama Yesus yang sebenarnya (Islam) menjadi Kristen dengan mengadakan berbagai macam penyelewengan penafsiran Kitab Suci. Ia mengungkapkan kritiknya dengan memeriksa kembali sejarah Kristianitas, Kitab Suci Kristiani, dan Kristianitas saat itu. Karya Abd al Jabbar dalam The Critique ini bercorak eksegese, sosiologis dan historis. Pada tingkat yang lebih dalam, Abd al Jabbar selalu menekankan Quran dan metode kalam. Dalam menyusun The Critique, Abd al Jabbar menggunakan sumber-sumber tulisan tentang Kristianitas yang telah ada sebelumnya, baik dari sumber muslim maupun non muslim.[17] Senada dengan para pemikir Islam dalam kritiknya terhadap doktrin Kristen, Abd al Jabbar juga menekankan tentang prinsip tawhid Allah yang telah dirusak oleh doktrin Kristen dalam Trinitas dan juga persoalan tentang keilahian Yesus Kristus.

3.       Perdebatan tentang Monotheisme Islam-Kristen
3.1.    Islam:  Monotheisme Tawhid ( Pemikiran Abu Isa al-Warraq dan Abd al-Jabbar)

 Inti dari doktrin Islam tentang Allah adalah keesaan Allah (tawhid). Di dalam Quran ditegaskan bahwa Allah itu satu namun berada di banyak tempat (Q.16:51, 44:8, 47:19, 112:1-4) dan monotheisme itu merupakan dasar doktrin Islam mengenai Allah. Segala macam bentuk pemahaman tentang Allah yang bertentangan dengan prinsip tawhid ini, tentu dinyatakan sebagai wujud penghujatan terhadap Allah sendiri. Apa yang menjadi kritik Islam terhadap doktrin Trinitas Kristen pun bersumber dari adanya pemahaman bahwa Trinitas  Kristen merupakan doktrin yang mengungkapkan tentang ‘persekutuan Allah dari tiga pribadi ilahi’ dan dengan demikian ada tiga Allah (tritheis) yang jelas bertentangan dengan Quran. Kritik muslim terhadap Trinitas adalah tentang kesalahan Kristen dalam menempatkan Yesus sebagai Putra dan Roh Kudus didalam hak Allah yang ekslusif dalam mengatur dunia, dan orang-orang Kristen menyembah Yesus sebagaimana mereka menyembah Allah sendiri.[18] Ada tiga garis besar mengenai tiga argumen kritik atas Trinitas ini: Kritik Quran, perkembangan doktrin trinitas sebagai wujud penyelewengan sabda Yesus, dan adanya penyelewengan rasional dalam formula doktrin trinitas klasik.[19]
Ketiga garis besar argumen atas kritik tersebut bersumber dari doktrin tawhid yang menjadi dasar Islam dalam memahami Allah dan beriman kepada-Nya. Apa yang disebut dengan Kritik Quran adalah teks-teks Quran yang memuat tentang kritik atas Trinitas. Di dalam Quran secara khusus dipahami bahwa ada persekutuan antara Allah, Yesus dan Maria (Q. 5:116). Namun kritik ini tidak dapat dipertanggungjawabkan karena pemahaman Kristen mengenai doktrin Trinitas bukanlah tentang persekutuan antara Allah, Yesus dan Maria tetapi Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kritik kedua berkaitan dengan adanya klaim bahwa perkembangan ajaran trinitas dalam doktrin Kristen merupakan bentuk penyelewengan ajaran Yesus. Hal ini berdasarkan pada pemahaman Islam akan Kristus sebagai seorang nabi yang tercipta (bukan Mesias). Argumen ini banyak dimunculkan oleh pemikiran Abd al Jabbar tentang Yesus yang adalah seorang rasul, dan bukan merupakan salah satu pribadi trinitas yang merupakan Sabda Allah. Kritiknya mengenai hal ini didasarkan pada klaimnya atas penyelewengan orang Kristen dalam memahami ajaran Yesus yang sesungguhnya di dalam Alkitab.[20]
Dalam Quran ditegaskan bahwa eksistensi Allah adalah (tawhid) tunggal. Ia merupakan kebenaran absolut yang mengatasi dunia (transenden), suatu ‘pribadi’ (being) yang unik (takterdefinisikan) dan tidak tergantung dengan segala macam ciptaan.[21] Quran menolak dualitas Allah yang mengungkapkan tentang kebaikan dan kejahatan berasal dari Allah dan menekankan bahwa kekuatan jahat tidak dapat menciptakan sesuatu. Oleh karena itu, teologi Islam menolak doktrin Trinitas dimana Allah berada dalam tiga pribadi dan satu substansi, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah dalam Islam adalah Allah yang universal dan absolut yang menyatukan semua nilai-nilai baik dan tidak ada kejahatan sama sekali. [22]
Oleh karena itu, dalam pemikirannya tentang kritik terhadap Trinitas, Abu Isa al Warraq dan Abd al Jabbar mengungkapkan tentang prinsip tawhid ini dengan mencoba mengurai persoalan teologis Trinitas berdasarkan logika umum yang berlaku saat itu. Secara khusus, Kritik al-Warraq terhadap Trinitas  ini berpijak dari logika Aristotelian dan filsafat Skolastik dalam menjelaskan Trinitas secara ontologis. Dengan demikian kategori-kategori logika yang digunakannya untuk menjelaskan kritiknya pun berdasarkan kategori-kategori rasional model Aristotelian dan filsafat Skolastik. Sementara itu, Abd al Jabbar mengungkapkan kritiknya terhadap Trinitas sebagai wujud penyelewengan ajaran sejati Yesus oleh kebudayaan Romawi. Filsafat dan kebudayaan Romawi telah menafsirkan tawhid secara keliru dengan mempersekutuan Allah ke dalam pemahaman tentang Keilahian Yesus dan konsep tentang satu substansi tiga hypostasis. Abd al Jabbar berusaha untuk menekankan tawhid Allah ini dengan menunjukkan teks-teks Kitab Suci Kristen yang diyakininya sebagai kata-kata Yesus sendiri tentang tawhid (Mat 16: 13-6: 20; Mrk 8: 27-80; Luk 9: 18-21).[23]
Sementara itu, berdasarkan logika Aristotetian dan filsafat Skolastik Abu Isa al Warraq menunjukkan bahwa doktrin Trinitas dengan menggunakan konsep satu substansi dan tiga hypostasis merupakan suatu kekeliruan yang tidak masuk akal karena akan memunculkan persoalan tentang generasi Allah (Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus), dan juga gejala anthropomorfisme yang berbahaya karena mereduksi pemahaman eksistensi Allah ke dalam alam pikir manusia yang terbatas. Selain itu, al Warraq menunjukkan bahwa logika yang dipakai untuk menjelaskan doktrin Trinitas dapat membawa orang jatuh dalam pemikiran tentang realitas ilahi keempat dalam diri Allah. Selain itu, konsep Trinitas dengan menggunakan model substansi dan hypostasis akan membawa orang pada pemikiran tentang karakter substansi dan hypostasis ilahi yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan oleh akal budi manusia secara lengkap.

3.2.    Kristen:  Monotheisme Trinitas (Kritik Abu Isa al-Warraq dan Abd al Jabbar tentang Trinitas)

Pemikiran al-Warraq tentang Trinitas tidak didasari oleh informasi yang keliru tentang Trinitas yang ada di dalam Al-Quran. Disebutkan bahwa dalam Al-Quran, Trinitas dipahami sebagai Allah, Yesus dan Maria. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib". (QS 5:116). Kritik al-Warraq terhadap Trinitas  ini berpijak dari logika Aristotelian dan filsafat Skolastik dalam menjelaskan Trinitas secara ontologis. Dengan demikian kategori-kategori logika yang digunakannya untuk menjelaskan kritiknya pun berdasarkan kategori-kategori rasional model Aristotelian dan filsafat Skolastik.
Sementara itu Abd al Jabbar mendasarkan kritiknya terhadap doktrin Trinitas Kristen pada Quran yang menekankan tentang tawhid. Metode eksegese dan kejeliannya dalam menggunakan sumber-sumber non muslim tentang Trinitas telah menghantarnya pada kesimpulan bahwa doktrin Trinitas merupakan wujud penyelewengan ajaran asli dari Yesus Kristus sendiri sebagaimana termuat dalam Quran mengenai tawhid Allah.
Atas kritik ini, pihak Kristen menjawab bahwa doktrin Trinitas tidak membicarakan tentang Allah, Maria dan Yesus tetapi Bapa, Putra dan Roh Kudus. Teologi Kristen tentang Trinitas tidak memahami keputraan Yesus adalah keputraan secara biologis sebagaimana dipahami oleh teolog Islam. Keputraan itu dipahami sebagai ketaatan Yesus sebagai realitas inkarnasi Sabda Allah dan di dalam relasinya yang mendalam dengan Allah. Dengan demikian, Kristianitas pun menyetujui tentang monotheisme karena Trinitas tidak membicarakan tentang tiga Allah, melainkan tentang relasi Allah dan Yesus di dalam Roh Kudus. Trinitas bukan doktrin tentang  monotheisme Allah yang statis, ontologis, melainkan dinamis, imanen dan relasional.[24]

3.3. Pokok Perdebatan: Persoalan Jumlah Allah? Kemahakuasaan Allah?

Dari perdebatan mengenai Tawhid dan Trinitas antara teolog Islam dan apologet Kristen dalam Kritik Abu Isa al Warraq dan Abu Isa al Warraq tersebut, persoalan pokok apakah yang dapat ditangkap sehubungan dengan usaha pemahaman tentang eksistensi Allah? Mengenai persoalan jumlah Allahkah yang harus mono(theis)? Apakah pokok perdebatan tersebut terletak dalam perbedaan mengenai teo (logi) dan kalam? Ataukah realitas transendental Allah yang Mahakuasa dan menafikan segala macam anthropormisme?
Kritik Abu Isa al Warraq dan Abd al Jabbar mengenai doktrin Trinitas dan Kristianitas pada umumnya ini membuka pemahaman baru tentang pintu dialog. Pemahaman tentang konteks pemikiran dan pergulatan yang dialami tokoh pun turut mewarnai proses dialog lebih lanjut dalam memahami Allah sesuai dengan konteks Islam maupun Kristen. Dengan demikian, titik persoalan terletak dalam proses berpikir dari masing-masing pihak dalam mengusahakan ‘pencarian’ dan ‘pemahaman’ akan Allah. Singkatnya, dialog dapat berlangsung dalam taraf dialog pemahaman (cara berpikir) dan bukan dalam entitas doktrin yang telah mewujud (Tawhid dan Trinitas). Konteks pemikiran teolog Islam tentang ‘kalam’ menjadi bingkai dari doktrin tentang Tawhid sementara konteks penelusuran refleksi ‘teologis’ dari para  teolog dan apologet tentang diri Kristus sebagai penampakan Allah, sebagai Sabda Allah menjadi bingkai dari doktrin Trinitas.
Oleh karena itu, pokok persoalan tentang perdebatan ini tidak terletak dalam persoalan tentang jumlah Allah maupun kemahakuasaan Allah namun terletak dalam pemahaman Allah sebagai realitas ilahi yang transenden dan imanen. Kalam dalam teologi Islam menekankan sisi transendental Allah berdasarkan Quran memunculkan doktrin tawhid yang tentu tidak dapat diterapkan dalam memahami doktrin Trinitas yang muncul dari pemahaman terhadap Allah yang imanen, yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus sebagai Inkarnasi Sabda Allah. Dengan demikian, monotheisme tetap teguh berdiri dengan memiliki segi pemahaman yang berbeda (transenden dan imanen-absolut statis-soteriologis dinamis-relasional). Dengan demikian, kedua pemahaman ini akan saling memperkaya satu sama lain dengan keunikan dan kekhasannya masing-masing, yang intinya tetap dalam pengakuannya terhadap (mono)theisme. Maka, hendaknya perdebatan hendaknya tidak lagi mempersoalkan tentang jumlah Allah yang secara tendensius menunjuk pada sisi ontologi Allah yang adalah mono (Esa), tetapi terletak pada sisi dinamisme teologi maupun kalam dalam memahami ‘kebenaran’ Allah dengan segala realitas transenden dan imanen-Nya.

4.       Perbedaan mengenai tekanan persoalan transendensi dan imanensi Allah dalam memahami monotheisme antara Tawhid dan Trinitas

Sungguh menarik untuk menyadari bahwa kritik rasional dari teolog Islam terhadap doktrin dan ajaran Kristen tentang Allah muncul dari kaum Mutazila. Para teolog Islam dari kaum Mutazila merupakan sekelompok intelektual minoritas yang di kalangan muslim sendiri dianggap kontroversial dan bahkan dianggap sebagai heretik. Oleh karena prinsip Mutazila tentang kebebasan manusia dan keadilan Allah, maka penelusuran akal budi bagi ‘kalam’ menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pergulatan intelektual religius mereka. Dalam hal ini, pertanggungjawaban rasional manusia di hadapan Allah menjadi bagian yang luhur bagi sebuah sikap hidup beriman. Artinya, orang beriman tidak cukup hanya memiliki fiqh[25], namun juga kalam[26]. Pemahaman tentang keselamatan akhirnya tidak didasarkan pada ketaatan terhadap hukum agama saja tetapi juga menyertakan pertanggungjawaban akal budi. Menurut kaum Mutazila, semua pengetahuan itu diperlukan bagi penyelamatan. Akal budi dengan segala pergulatan rasionalnya diperlukan dalam rangka menerima pewahyuan Allah bagi keselamatan. Oleh karena itu, setiap manusia diajak untuk menggunakan akal budi di segala tempat dan waktu bagi pertanggungjawaban imannya demi keselamatan.
Mengenai perdebatan yang muncul tentang monotheisme Allah di kalangan para pemikir Mutazila abad ke-9/10 menanggapi doktrin Kristiani tentang Trinitas pun dilatarbelakangi oleh pergulatan tentang ‘kalam’ ini. Pergulatan tentang ‘kalam’ yang terungkap dalam kritik terhadap doktrin dan sejarah Kristianitas dari kaum Mutazila ini setidaknya telah menyumbang khazanah refleksi teologis yang lebih mendalam dari kedua belah pihak (Islam-Kristen) dalam memahami monotheisme Allah. Pokok persoalan perdebatan tidak lagi didasarkan pada eksistensi ontologis Allah, namun dalam perbedaan pemahaman tentang Allah yang transenden sekaligus imanen. Suatu adagium yang telah umum diterima dalam diskusi tentang filsafat ketuhanan bahwa Allah tidak termasuk dunia, berbeda total dengan dunia. Meski demikian, tidak dipungkiri juga bahwa tidak ada tempat lain untuk menemukan Allah daripada di dunia ini. Allah mengatasi dunia dan hadir juga di dalamnya.[27] Dalam prinsip tawhid, kemandirian dan kekuasaan absolut Allah atas dunia mendapatkan tekanan lebih kuat daripada kenyataan kehadirannya di dunia yang dekat dengan manusia dan dunia. Pemahaman akan Allah yang berbeda total dengan dunia dan juga dekat dengan dunia ini dimaknai dengan sifat transenden dan imanen Allah. Dan kedua hal ini tetaplah tinggal sebagai misteri Allah yang tak dapat sepenuhnya ditangkap oleh akal budi manusia, namun manusia juga dapat menangkap sebagian dari kehadiran-Nya. Dan apa yang terjadi dalam perdebatan serta kritik antara kaum Mutazila dengan Kristianitas tentang Trinitas dan Tawhid pun sebenarnya berdasar pada perdebatan tentang perbedaan pemahaman antara transendensi dan imanensi Allah yang monotheis.
 Tradisi Islam memahami Allah sebagai Tuhan yang tunggal (Tawhid) karena menekankan tentang keabsolutan Allah atas dunia ini (realitas transendensi Allah) sementara doktrin Trinitas menekankan tentangi sisi   kehadiran Allah yang relasional (realitas imanensi Allah). Dari pihak Kristiani pun menjelaskan bahwa Allah tetap Esa namun mau terlibat ke dunia dengan kekuatan misteri agungnya untuk menyapa manusia melalui kehadiran-Nya dalam Putra dan Roh Kudus. Hanya saja, ketika doktrin ini ditetapkan sebagai suatu ajaran yang paten, penelusuran lebih lanjut serta refleksi teologis yang bernuansa pergulatan ‘kalam’ dari kaum Mutazila tak dapat tinggal diam. Apa yang dilakukan oleh kaum Mutazila bukan pertama-tama membela Allah, namun lebih memperjuangkan pergulatan religius dan akal budi tiada henti dalam menangkap pewahyuan Allah. Bagi mereka, pewahyuan Allah tidak dapat dibelenggu dalam doktrin-doktrin mati semacam ajaran tentang Trinitas dan juga fiqh, namun dalam dinamisme ‘kalam’. Maka, kritik terhadap doktrin dan pemahaman ini akan terus bergulir karena dalam pergulatan dan kritik itu, Allah sungguh nyata membawa manusia pada pewahyuan diri-Nya yang semakin utuh (bdk. Perkataan Abd al Jabbar  tentang ‘kalam’).[28] Maka, pertanyaan reflektif bagi penghayatan iman dan pergulatan akan Allah selanjutnya adalah: Apakah doktrin-doktrin itu justru telah memasung kebebasan manusia dalam mencari dan menemukan Allah yang senantiasa mewahyukan dalam misteri transendensi serta imanensi diri-Nya? Dan sejauh mana umat beriman telah berusaha mempertanggungjawabkan iman serta pemahamannya akan Allah di dalam alur pergulatan yang tiada henti tentang Yang Ilahi?











Daftar Bacaan

1.       David  Thomas, Anti-Christian polemic in early Islam: Abu Isa al-Warraq’s “Against the Trinity”, Cambrigde, Cambrigde University Press, 1992
2.       Encyclopedia of Religion, Ed. Lindsay Jones, Vol. 5, 2nd Edition, New York: Macmillan Reference of Thompson Gale, 2005
3.       Gabriel Said Reynolds,  Abd al-Jabbar and The Critique of Christian Origins, Boston: Brill, 2004
4.       http://en.wikipedia.org/wiki/fiqh, diunduh tanggal 18 Desember 2009
5.       http://en.wikipedia.org/wiki/Kalam, diunduh tanggal 18 Desember 2009
6.       http://en.wikipedia.org/wiki/Mu'tazili diunduh tanggal 15 Desember 2009
7.       http://en.wikipedia.org/wiki/Tawhid, diunduh pada tanggal 17 Desember 2009
8.       Jon Hoover, “Islamic Monotheism and The Trinity”, dalam The Conrad Grebel Review, Winter 2009
9.       The Encyclopedia of Islam, Leiden: Koninklijke Brill NV, 1999
10.   Tom Jacob, SJ, Paham Allah:  Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002



[1]David  Thomas, Anti-Christian polemic in early Islam: Abu Isa al-Warraq’s “Against the Trinity”, Cambrigde: Cambrigde University Press, 1992, hal.3
[2] David Thomas, hal.9
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Mu'tazili diunduh tanggal 15 Desember 2009
[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Mu'tazili diunduh tanggal 15 Desember 2009
[5] David  Thomas, Anti-Christian polemic in early Islam: Abu Isa al-Warraq’s “Against the Trinity”, Cambrigde, Cambrigde University Press, 1992, hal.10
[6]David Thomas, Anti-Christian polemic in early Islam: Abu Isa al-Warraq’s “Against the Trinity”, Cambrigde, Cambrigde University Press, 1992, hal.22
[7]David  Thomas, hal.22-24
[8]David  Thomas, hal.3
[9]David  Thomas, hal.67
[10] Gabriel Said Reynolds,  Abd al-Jabbar and The Critique of Christian Origins, Boston: Brill, 2004, hal. 41-42
[11] Gabriel Said Reynolds, hal. 44-45
[12] Gabriel Said Reynolds, hal. 45-46
[13] Gabriel Said Reynolds, hal. 51
[14] Gabriel Said Reynolds, hal. 22
[15] The Encyclopedia of Islam, Leiden: Koninklijke Brill NV, 1999
[16] Gabriel Said Reynolds, hal. 24-25
[17] Gabriel Said Reynolds, hal. xiii
[18]Jon Hoover, “Islamic Monotheism and The Trinity”, dalam The Conrad Grebel Review, Winter 2009, hal.1
[19]Jon Hoover, hal.2
[20]Salah satu contoh yang diklaim sebagai ajaran asli Yesus oleh Abd al Jabbar adalah kutipan  dari Yoh 14:24 ,12:49  tentang perkataan Yesus yang sesungguhnya tentang diri-Nya sendiri. Abd al-Jabbar mempercayai bahwa Yesus sungguh mengatakan hal itu. Dan kata-kata “Dia yang mengutus Aku” menjadi bukti bahwa Yesus adalah seorang utusan (rasul) sebagaimana umumnya dalam doktrin Islam.
[21]Vincent J. Cornell, Encyclopedia of Religion, Encyclopedia of Religion, Ed. Lindsay Jones, Vol. 5, 2nd Edition, New York: Macmillan Reference of Thompson Gale, 2005, hal..3561-3562
[22] http://en.wikipedia.org/wiki/Tawhid, diunduh pada tanggal 17 Desember 2009
[23] Gabriel Said Reynolds,  Abd al-Jabbar and The Critique of Christian Origins, Boston: Brill, 2004, hal. 97-107
[24] Jon Hoover, “Islamic Monotheism and The Trinity”, dalam The Conrad Grebel Review, Winter 2009, hal.2
[25] Fiqh (Arabic: فقه‎, IPA: [fɪqəh]) is Islamic jurisprudence. Fiqh is an expansion of the Sharia Islamic law—based directly on the Quran and Sunnah—that complements Shariah with evolving rulings/interpretations of Islamic jurists.(http://en.wikipedia.org/wiki/fiqh, diunduh tanggal 18 Desember 2009)
[26] Kalām (Arabic: علم الكلام‎) is the Islamic philosophy of seeking Islamic theological principles through dialectic. In Arabic the word means "words, discussion, discourse". A scholar of kalam is referred to as a mutakallim (Muslim theologian; plural mutakallimiin). There are many interpretations of why this discipline was called "kalam"; one of them is that the widest controversy in this field was about Allah's speech.(http://en.wikipedia.org/wiki/Kalam, diunduh tanggal 18 Desember 2009)
[27] Tom Jacob, SJ, Paham Allah:  Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hal. 77
[28] “ Barangsiapa mempelajari fiqh, ia mencari segala sesuatu di dunia ini, namun kalam tidak memiliki tujuan lain selain Allah sendiri”.

Tidak ada komentar: