Rabu, 21 Januari 2009

INDONESIA MEMBUTUHKAN KEMERDEKAAN EPISODE KEDUA


Sebentar lagi pesta pemilihan umum di negeri ini akan digelar. Jauh-jauh hari sebelumnya, mulai muncul wakil-wakil rakyat yang tergabung dalam sebuah kelompok politik yang bernama partai politik. Mereka besama-sama berlomba menarik simpati rakyat agar dipercaya untuk mengatur dinamika kehidupan negeri ini di tahun-tahun yang akan datang. Mereka semua berlomba, demi sebuah kepercayaan dan kekuasaan, meraih suara rakyat agar mendukung mereka secara penuh, meski setelah itu, rakyat bisa dilupakan begitu saja. Seperti halnya yang terjadi pada saat pemilu tahun lalu. Sebuah partai kecil akhirnya memenangi pemilu dan berhasil menghantarkan salah satu calon presiden dari partainya mendapatkan kedudukan sebagai presiden. Namun apa yang terjadi setelah itu, politik memang selalu kejam dan culas, kata beberapa seniman. Baru di dalam pemerintahan presiden itu, rakyat Indonesia mengalami kembali masa-masa menyedihkan ketika harus antre sembako atau BLT, harga BBM melambung tinggi, hingga pengesahan undang-undang yang terkesan diskriminatif terhadap golongan masyarakat tertentu. Selalu saja, ketika dalam suatu pesta demokrasi, politik dimaknai sebagai sebuah usaha meraih kekuasaan, prinsip bagi-bagi kekuasaan pun muncul di antara partai-partai yang menamakan diri pejuang bagi rakyat, ujung-ujungnya, disamping berbagi kekuasaan, mereka pun berbagi duit, seperti yang terjadi pada para koruptor yang kebanyakan justru berasal dari kalangan wakil-wakil rakyat itu. Itulah demokrasi model Indonesia. Tak ada lagi tokoh semacam Bung Karno, atau Bung Hatta yang sungguh-sungguh berjuang bagi bersatunya bangsa, memihak kaum miskin dan terbelakang di negeri ini, menggunakan kekuasaan sebagai sarana pelayanan bagi yang lemah.
Semenjak politik Indonesia dikuasai oleh golongan militer dan pengusaha, tak ada lagi nasionalisme yang menjiwai semangat hidup berbangsa. Yang ada kini hanyalah kapitalisasi politis demi sebuah kekuasaan. Rakyat tidak lagi menjadi yang utama untuk diperjuangkan kesejahteraannya. Partai politik menjelma menjadi sebuah perusahaan model kapitalistik material yang hanya menguntungkan pihak-pihak elit partai. Hal ini tampak jelas ketika iklan-iklan politik pun bermunculan di televisi-televisi negeri ini yang memang amat akrab dengan iklan dan pengebirian massa dengan sinetron-sinetron penjual mimpinya. Dan rakyat pun semakin acuh dengan tingkah para penguasa itu, sebab bagi mereka, nasionalisme sekarang ini tak ubahnya dengan omong kosong yang tak dapat lagi memberi sebuah kemerdekaan. Nasionalisme sama saja dengan bunuh diri ketika rakyat telah terbagi dalam kotak-kotak golongan tertentu yang tak lagi menjadikan persatuan sebagai dasar perjuangannya. Perjuangan pun beralih ke arah fragmentasi fundamentalistik golongan,jika perlu, kekerasan digunakan demi meraih kekuasaan bagi sekelompok golongan tertentu. Jika demikian, masih tersisakah nasionalisme di negeri ini?
Negeri ini memerlukan sebuah pembaharuan. Mungkin pembaharuan ini akan lebih berat daripada apa yang dikerjakan oleh para pendiri bangsa ini. Sebab apa yang dihadapi oleh generasi sekarang ini bukanlah penjajah dalam arti sesungguhnya yakni imperialisme dan kolonialisme dari suatu bangsa lain tetapi lebih merupakan imperialisme model baru yang berwujud dalam kapitalisasi politis dan sektarian dari para warganya sendiri. Semangat persatuan dan kesejahteraan sosial yang mencakup rakyat semuanya perlu mendapat tekanan yang utama. Kekuasaan yang berarti sarana pelayanan bagi kesejahteraan rakyat miskin perlu menjadi kesadaran dari para pejuang pembaharuan. Dan ini semua telah diawali oleh para mahasiswa yang sungguh tulus berjuang demi kesejahteraan rakyat banyak serta para pejuang demokrasi yang telah gugur selama ini demi sebuah kesejahteraan dan keadilan. Pembaharuan ini lebih mengarah pada pembaharuan mental sebagian besar manusia Indonesia yang begitu mudah menyerahkan diri pada imperialisme model baru dalam wujud kekuasaan dan materi, serta fundamentalisme golongan. Akankah muncul Bung Karno, Bung Hatta serta tokoh-tokoh nasionalisme baru yang akan membebaskan bangsa ini dari pejajahan model tersebut? Kita tentu saja boleh berharap bahwa di negeri ini masih tersisa jiwa-jiwa pejuang yang murni dan tulus untuk melakukan perubahan itu. Pesta demokrasi tahun 2009 pun dapat menjadi salah satu harapan yang terbentang luas akan hadirnya pejuang-pejuang itu. Kesimpulan dari semuanya ini adalah dibutuhkannya kemerdekaan episode kedua bangsa ini dari segala bentuk penjajahan mentalitas yang justru amat mengerikan. Dan Rakyatlah pemegang kekuasaan tertinggi dari pemerintahan negeri ini. Adakah partai yang sungguh mampu memperjuangkan hal ini?
Selamat merenung sebelum sungguh-sungguh memilih.

0 komentar: