Rabu, 21 Januari 2009

Indonesia sebagai Keluarga


Untuk mengenali suatu karakter khas masyarakat tertentu, local wisdom yang telah mengakar dan menjadi suatu sistem budaya menjadi amat penting untuk dikenali. Dengan mengenali local wisdom yang ada dalam suatu masyarakat tertentu, sistem budaya dan juga tata aturan masyarakat tertentu dapat dipetakan. Pemetaan ini merupakan usaha untuk mengenali karakter khas dari suatu masyarakat tertentu berikut penataan sistem yang mengatur cara-cara suatu masyarakat tertentu dalam memandang hidup. Hal yang sama dilakukan oleh Saya Sasaki Shiraishi, seorang peneliti tentang Indonesia berkebangsaan Jepang lulusan Cornell University dalam mencoba memotret realitas karakter manusia Indonesia di era Pemerintahan Orde Baru. Hasil dari penelitian ini dituangkannya dalam buku Pahlawan-pahlawan Belia, yang secara khusus memotret tentang posisi keluarga Indonesia dalam politik, atau politik kekeluargaan di Indonesia era Orde Baru.
Saya Shirashi menulis penelitiannya seperti menulis sebuah jurnal. Mulai dari awal kedatangannya di Indonesia, bahkan ketika ia baru pertama kali menjejakkan kakinya di Bandara Udara Internasional Sukarno-Hatta, ia mulai mencatat peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Peristiwa-peristiwa itu cukup memberi gambaran tentang situasi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Memang secara khusus ia hendak memfokuskan penelitiannya tentang sistem politik di Indonesia era Orde Baru serta kaitannya dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Melalui pemotretan awal tentang situasi hidup harian orang-orang di Jakarta yang ditemuinya, ia mulai memetakan fokus penelitiannya.
Pada bab pendahuluan, ia menguraikan tentang kaitan antara karakter khas sistem kekeluargaan di Indonesia serta kaitannya dengan sistem pendidikan. Setelah itu, baru menelusuri mengapa sistem kekeluargaan dan yang akhirnya menjadi sistem pendidikan ini mendasari sistem politik Orde Baru. Ia mengungkapkan bahwa sistem politik di Indonesia diatur dengan menggunakan sistem pendidikan dalam keluarga dimana Pemerintah (ia menyebut secara eksplisit Presiden Soeharto sebagai penguasa Orde Baru) sebagai bapak sementara rakyat sebagai anak. Dengan sistem ini, posisi presiden Soeharto mendapatkan posisi bapak keluarga sebuah bangsa yang bernama Indonesia yang menjadi ikon kebaikan dan perlindungan bagi ‘anak-anaknya’ (para pembantu di pemerintahan dan rakyat). Soeharto mengatur negara seperti seorang bapak dalam keluarga dimana ia menjadi pengayom dan pelindung sementara ‘anak-anaknya’ berkewajiban menerima perlindungan ini dengan mengikuti apa saja kehendak dari sang pengayom dan pelindung. Selain itu, dengan memimpin negara seperti keluarga, jaringan-jaringan dalam pemerintahan pun diatur seperti jaringan dalam keluarga. Orang akan dengan mudahnya menggunakan fasilitas negara jika ia termasuk ke dalam jaringan ‘keluarga’ itu. Dengan demikian, rakyat yang tidak mengikuti aturan negara akan dianggap seperti anak hilang yang tidak pantas mendapatkan perlindungan dari ‘Sang Bapak’, atau lebih tepatnya akan menjadi ‘terhukum’.
Pada bab I, judul yang dipilih oleh Saya Shiraishi adalah Pengantar atawa Introduksi kepada Indonesia Orde Baru. Mengapa Shiraishi memilih menggunakan judul demikian lebih didasari dengan fokus penelitiannya tentang situasi politik Indonesia di era Orde Baru serta kaitannya dengan sistem kekeluargaan yang mendasarinya. Dalam bab ini, ia menulis tentang praktek antar-jemput yang lazim terjadi dalam keluarga Indonesia serta jaringan-jaringan yang mungkin dari keluarga itu. Dikatakannya bahwa jaringan-jaringan itulah yang membuat orang Indonesia merasa aman karena tidak terasing dari keluarganya. Ketika jaringan-jaringan ini juga merasuk dalam dunia politik dan pendidikan, maka mentalitas kekeluargaan ini menjadi sistem pemerintahan yang mengurangi profesionalitas pelayanan publik. Digambarkan olehnya dimana fasilitas negara dengan seenaknya dapat digunakan oleh para pejabat tertentu berikut keluarganya, termasuk acara-acara keluarga. Terhadap realitas itu, orang Indonesia merasa sah-sah saja karena semuanya berdasar pada sistem kekeluargaan. Orang yang tidak termasuk ke dalam jaringan-jaringan itu dikategorikan sebagai orang asing yang sewaktu-waktu menjadi pengacau/ancaman bagi yang lain. Untuk meredam pengacau dan ancaman ini, orang harus dirangkul dan disatukan ke dalam ‘keluarga’ dengan jaminan perlindungan. Secara tidak sadar, realitas ini dapat menjadi dasar dari mentalitas korupsi, kolusi dan nepotisme, tentu dengan alasan kekeluargaan1.
Cara penulisan Saya Shiraishi sungguh menarik karena memulai dari pengalamannya menjejakkan kaki di bandara, berjumpa dengan realitas sosial antar-jemput setiap keluarga dan orang-orang asing yang tidak ada penjemput. Setelah itu, ia menuliskan pengalamannya bertemu dengan teman-teman dan bagaimana mengarungi Jakarta. Dari pengalaman sederhana sehari-hari, Saya Shiraishi memotret suatu mentalitas masyarakat Indonesia Orde Baru yang begitu merasuki segenap sistem sosialnya. Bahkan dari cerita-cerita anak-anak pun dapat ditelusuri betapa mentalitas kekeluargaan ini telah menjadi sebuah budaya yang lazim (umum). Ada kecurigaan Saya Shiraishi tentang sistem kekeluargaan ini yang menyebut bahwa sistem kekeluargaan ini sebenarnya bukan khas Indonesia melainkan khas Jawa, namun ia tidak secara khusus menguraikan hal ini. Ia hanya membandingkan sistem kekeluargaan yang ditemuinya di Indonesia dengan sistem kekeluargaan model Eropa modern. Di Indonesia, teman pun (tidak terbatas pada legitimasi seksual bapak ibu dan anak) bisa menjadi keluarga bila ia masuk ke dalam jaringan-jaringan itu, sementara sistem kekeluargaan Eropa modern berdasarkan hubungan legitimasi. Hal ini menjadi point penting untuk melangkah lebih jauh dalam mengenal sistem kekeluargaan di Indonesia.
Sebagai sebuah buku anthropologi, Pahlawan-pahlawan Belia merupakan buku yang menarik karena menggunakan model penulisan semacam jurnal. Data dan informasi yang ditampilkan oleh Saya Shiraishi merupakan realitas konkret yang terjadi di masyarakat Indonesia, secara khusus dengan sistem keluarganya. Meski begitu, ia juga menuliskan beberapa kekagumannya yang nampak dari perbandingan-perbandingan dengan budaya lain serta penilaian terhadap sistem kekeluargaan ini. Jika ditanya hal apakah yang perlu ditambahkan dalam tulisan Saya Shiraishi ini, adalah mengulas sedikit tentang asal muasal tradisi kekeluargaan ini yang mendasari sistem perpolitikan Orde Baru yang khas Jawa. Meski jika penambahan ini dilakukan akan semakin memperlebar cakupan penelitian, namun pandangan awal mengenai mentalitas kekeluargaan ini tentu akan memberi dasar yang cukup baik bagi penelusuran lebih lanjut mengenai ‘keluarga’ dalam politik Indonesia di Era Orde Baru.

1 Roman N Lendong, Bahaya "Politik Keluarga",http://www.kompas.com/kompascetak/0108/27/dikbud/baha37.htm

0 komentar: